ABDI – Ketika mimpimu menjadi suatu pertanda buruk

“Di, lu serius mau pergi malem ini? Nggak akan nunggu besok pagi aja?” tanyaku pada Andi memastikan.

 

“Serius Bi. Barang-barang kebutuhan buat di sana juga udah siap semua, kan? Nasya sama Nindya masih di mana? Lu udah hubungin mereka belum?” Andi menjawab sembari mengecek kembali perlengkapan dan mobilnya.

 

“Udah, gue udah hubungin mereka. Palingan bentar lagi juga mereka sampe.”

Kemudian tibalah mobil di depan rumah Andi. “Tuh, mereka datang juga.“ sahutku yang kemudian menghampiri mobil mereka.

 

“Dari mana saja Tuan Putri Nasya dan Nindya? Kok baru sampe jam segini?” tanyaku yang kemudian hanya dibalas tawa cengegesan kedua wanita itu.  Kedua wanita itu kemudian memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi dan duduk di kursi penumpang bagian tengah.

 

“Okeh, barang bawaan kalian udah aman, kan? Waktunya kita berangkat! Pantaiiiii, kami datang!!” sahut Andi semangat dan kami pun memulai perjalanan.

 

Kami pergi dari kota menuju pantai sekitar pukul sebelas malam dengan target dapat melihat sunrise ketika kami sampai nanti. Pantai yang kami tuju terkenal dengan pemandangan yang begitu indah meski memiliki tebing karang yang terjal di beberapa bagian pantai dan memiliki ombak yang kuat, terutama di bagian selatan.

 

“Nin, gue udah ga sabar deh buat liat sunrise nanti. Pasti keren banget, ‘ntar lu fotoin gue ya. Harus atmagramable pokoknya!” pinta Nasya.

 

“Nas, ‘kan gue udah bilang sama lu, di sana kita nggak bisa liat sunrise. Lu juga udah sempet baca ulasan-ulasan tentang pantai ini, kan?” tukas Nindya.

 

“Loh? Jadi di sana kita gak bisa liat sunrise?” Aku menengok ke bagian belakang.

 

“Ya elah Bi! Lu sama aja kaya Nasya, sama-sama pelupa. ‘Kan waktu itu gue udah cerita sama kalian di kantin. Udah ah, gue mau tidur! Cape banget hari ini.” Nindya pun memakai bantal leher serta penutup matanya.

 

“Gue juga tidur duluan ya, Bi. Lu temenin Andi. Pastiin dia nggak ngantuk selama nyetir!” tambah Nasya yang kemudian menyuruhku kembali menengok ke depan. “Lu kalau ngantuk tidur aja, Bi. Gue udah hafal kok jalan ke sana.” kata Andi seperti tahu isi kepalaku.  “Yaudah deh kalau gitu, gue tidur sebentar ya. Kalau lu butuh apa-apa bangunin gue!” jawabku seraya mencari posisi yang nyaman untuk tidur.

Tidak butuh waktu lama aku pun terlelap.

 

– – – – – – – – – –

 

“Akhirnya kamu datang juga. Saya sudah menanti kedatanganmu sejak lama. Teman-temanmu juga sepertinya tidak asing dengan tempat ini.” ucap seorang wanita yang entah dari mana asal suaranya.

“Anda siapa?! Ada perlu apa?” tanyaku dengan sedikit berteriak ketakutan.

Aku membalikkan tubuhku namun tidak menemukan siapa-siapa.

“Tidak perlu takut. Saya tidak akan memaksa kamu dan teman-temanmu untuk bergabung dengan saya.” ucapnya lagi.

Terdengar langkah kaki wanita itu semakin lama seperti mendekatiku. Mataku melihat sekeliling untuk mengetahui dari mana asal suaranya.

“Ini di mana? Apa aku pernah datang ke tempat ini?” gumamku.

Tempat ini gelap dan dingin, rasanya seperti sedang berada di dalam sebuah gua. Syoooshhhh… Hawa dingin melewatiku begitu saja. Tiba-tiba saja seseorang memegang pundakku. Wangi melati mulai tercium di sekelilingku. Tubuhku kaku seketika, lidahku pun kelu tak bisa berbicara.

“Abian … Abian …,” bisik wanita itu, “jagalah temanmu jika kau tidak ingin salah satu dari mereka menjadi abdiku. Terutama lelaki dengan atma langka itu, dia sangat istimewa.”

*Abian adalah nama yang penulis buat untuk Main Character pada gim Code Atma

 

Ku arahkan padanganku ke bawah, tanah di sekelilingku mulai membeku.

“A–Apa maumu? Kau tidak akan bisa menyakiti sahabatku!” jawabku sedikit terbata-bata.

Aku mencoba membalikkan badanku agar aku dapat melihat siapa wanita yang sedang berbicara kepadaku. Aku tidak dapat melihat sosok wanita itu, di dalam sini sangat gelap. Sosoknya begitu samar-samar. Kulihat ada sosok lain di belakangnya. Dia berbisik kepada wanita itu dan dibalas dengan sebuah anggukan. Sosok lain di belakang wanita itupun perlahan pergi. Wujudnya juga tidak begitu jelas. Tapi kulihat gerakannya–aku yakin–seperti ular. Tubuhku kaku. Tubuhku mulai membeku. Kini, wanita itu mengeluarkan tongkat dan mengarahkannya kepadaku.

Aku sangat panik ketika dia mengarahkan tongkatnya kepadaku. Aku harus pergi dari tempat ini! Aku pun berusaha untuk berlari, sebisa mungkin untuk menjauhi wanita itu. Semakin jauh aku berlari, rasa dingin ini terus merambat ke seluruh tubuhku. Aku terjatuh. Tersandung batu yang cukup besar. Tubuhku terguling-guling. Kepalaku rasanya seperti membentur sesuatu. Kukumpulkan kesadaranku sejenak. Tidak! Kakiku, arghhhh … kakiku membeku. Aku tidak bisa menggerakannya. Aku menggapai-gapai tanah di depanku agar bisa terus menjauh dari wanita itu.

Tiba-tiba saja, sepasang kaki muncul tepat di depan mukaku. Aku begitu takut untuk mendongakkan kepalaku.

“Kau mau pergi ke mana, Abian? Kau tidak bisa pergi dari tempat ini!” Wanita ini, wanita ini sudah berada di depanku.

Bagaimana bisa?! Tubuhku sudah tidak bisa digerakkan lagi. Aku membeku, benar-benar membeku. Aku ingin berteriak untuk meminta pertolongan namun sudah tidak bisa. Semua telah terlambat. Tolong! Jeritku dalam hati.

– – – – – – – – – –

            “ Tolonggggggggggggggg!!!!” teriakku. Aku berteriak dan terbangun di dalam mobil.

Ketiga temanku segera memandangiku dengan khawatir.

“Abi, lu kenapa? Dari tadi lu ngigau nggak jelas terus sekarang tiba-tiba teriak.” sambut Nasya.

“Lu kalau nggak enak badan bilang dong, Bi. ‘Kan kita bisa jadwal ulang buat liburan ke pantainya.” tambah Andi.

“Nih Bi, lu minum dulu ya. Tenangin diri lu dulu.” Nindya pun menyodorkan sebotol air mineral kepadaku.

Aku menerima botol itu dan meminumnya perlahan sambil mencerna kejadian dalam mimpiku tadi.

“Makasih, Nin.” ucapku setelah selesai meneguk air yang Nindya berikan.

“Gue bikin kalian kaget ya?” tanyaku.

Andi menepikan mobilnya dan kemudian menatapku lekat. “Bi, lu serius nggak kenapa-napa, kan? Liat badan lu tuh, penuh keringet.”

Aku pun meraba dahi dan leherku, benar penuh keringat. Aku segera mengeluarkan handuk kecil dari dalam dari tasku.

“Andi, kita istirahat dulu aja di sini. Gapapa, kan?” tanya Nasya.

“Iya nih Di, gue juga ingin ke kamar kecil. Nas anterin gue ya” pinta Nindya.

“Ya udah kebetulan tuh di depan ada warung kecil. Kita ke sana aja.” tunjuk Andi.

Nindya dan Nasya pun turun dari mobil. Aku melihat jam yang melingkar di tanganku, pukul setengah lima pagi.

“Di, pantainya masih jauh nggak dari sini?” tanyaku sembari mengelap sisa keringat di wajahku.

Dia menyalakan lampu dashboard. “Harusnya sih nggak, sekitar tiga puluh sampai enam puluh menit lagi kita udah sampe. Badan lu udah enakan belum, Bi? Lu mau ke kamar kecil kagak?”

Aku mengangguk. “Udah Di, lu santai aja. Lu kalau mau ke kamar kecil silakan. Biarin gue aja yang jaga mobilnya.”

Andi pun mengangguk dan keluar dari mobil. Aku melihat ke luar jendela. Keadaan di luar masih cukup gelap dan minim pencahayaan. Tidak begitu banyak kendaraan yang melewati jalan ini. Andi bilang ini adalah rute tercepat untuk sampai ke pantai. Aku melihat ada mobil lain menepi di dekat warung itu juga. Syukurlah, bukan hanya kami yang sedang berada di tempat ini.

Aku kembali mengedarkan pandanganku untuk melihat sekeliling tempat ini. Aku memicingkan mataku untuk memastikan apa yang kulihat di seberang jalan itu nyata.  Aku mengedipkan mataku dan sosok itu hilang begitu saja. Aku tersentak kaget. Sosok itu … aku tidak lupa! Dia adalah sosok wanita yang berada di belakang wanita misterius dalam mimpiku tadi. Perasaanku semakin tidak enak. Sangat tidak nyaman dan benar saja, kulihat kunang-kunang mulai mendatangi warung kecil itu. Aku segera berlari menuju warung kecil itu sembari mengeluarkan ponselku untuk memakai aplikasi yang Kasna sering sebut.

– – – – – – – – – –

            Dddddrrrrttt … ddddrrtttt ….

            Aku meraba tepian kasur untuk mencari ponselku.

Dddddrrrrttt … ddddrrtttt ….

            “Arghhh … di mana sih ponselku?!” Aku segera bangkit dari kasur dan mencari ponselku.

“Kopi Pesawat Air!” sambut seseorang ceria.

“Kopinya diminum, pesawatnya dijual, airnya gue siram ke muka lu!” jawabku ketus sambil memakai kacamata.

“Dih, jutek amat! Gimana keadaanmu, Bi? Udah mendingan?” tanya Nana.

“Andi cerita sama kamu?” tanyaku balik.

“Iya, dia cerita. Katanya tingkah lu aneh. Lu kenapa sih? Nggak biasanya lu begini. Lu lagi ada masalah?”

Aku membuka pintu balkon kamar hotel ini, ternyata sudah siang.

“Nggak, gue nggak ada masalah apa-apa, Na. Beneran deh. Mungkin emang kecapekan aja, pulang kerja langsung siap-siap pergi ke pantai.” jawabku sembari duduk.

Tidak mungkin aku menceritakan isi mimpiku pada Nana. Derasnya ombak terdengar dari sini, semilir angin pantai pun membelai wajahku dengan lembut. Membuat tubuhku sedikit lebih rileks.

“Ya udah deh kalau lu beneran nggak kenapa-napa. Gue cuma mau nanyain itu aja.” balasnya. “Oh iya, sama ada satu yang ingin gue bilang sama lu.”

Aku mengeryitkan dahi.

“Jangan lupa bawa oleh-oleh dari pantai ya, hehehe.” Dia terkikik malu.

“Astaga … gue kira ada hal penting yang mau lu sampein. Buat sahabat gue apa sih yang nggak? Mau dibawain apa, hm? Batu karang? Atau Pasir deh sekalian satu truk hahaha!” jawabku sambil bercanda yang dibalas dengan omelannya.

Untunglah aku dapat mendengar tawa Nana di saat seperti ini. Tawanya membuatku kembali tenang.

“Ya udah Bi, gue lanjut dulu ya. Have fun sama yang lain. Hati-hati juga ya! Talk to you later~” tutupnya.

Tiniit … tinitt …. Cklek!

Aku menoleh ke arah pintu kamar.

“Eh Abi, ternyata lu udah bangun. Abis nelfon siapa? Nih, gue bawain makan siang. Lu belum makan dari tadi pagi.” Dia pun menghampiriku dan menyiapkan makanan yang dia bawa.

“Tadi Nana nelfon, mastiin keadaan gue doang. Waahh, wangi banget nih. Makasih ya, Di, gue udah laper banget.” jawabku.

“ Yoi, Brother! Gue mandi dulu ya, gerah banget. Lu kalau mau minum pilih aja di dalem kulkas. Barang bawaan lu juga udah gue pindahin tadi.” jelasnya dan melengos masuk ke dalam kamar mandi.

Aku pun menyantap makanan yang Andi berikan.

Kejadian di warung kecil pagi hari tadi benar-benar di luar nalarku. Tidak mungkin jika aku berhalusinasi. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, sudah jelas kunang-kunang mulai berdatangan. Namun ketika aku sampai, keadaan di sana benar-benar rapi. Tidak ada kekacauan atau pun hal yang janggal seperti kebanyakan pertanda kunang-kunang. Nindya-lah yang melihatku pertama kali, dia begitu keheranan melihat wajah ketakutanku. Nindya menyuruhku bergabung untuk istirahat sejenak di warung itu. Nasya kemudian datang membawa baki berisikan teh manis hangat dan beberapa makanan.

“Bi, lu rileks dong. Gausah tegang kaya gitu. Kita ke pantai ‘kan mau liburan, ini malah kaya orang dikejar setan.” jelasnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Nindya menyesap teh hangat yang Nasya bawa. “Mending lu minum ini dulu deh, Bi. Lu laper udah laper belum?” tawarnya.

Aku hanya menggelengkan kepalaku enggan untuk makan dan minum saat ini. Andi pun datang menghampiri kami. Dia memandangiku, Nindya, dan Nasya bergantian.

“Loh, kalian di sini semua? Terus yang jaga mobil siapa?” tanya Andi.

Nindya dan Nasya sedikit terkejut. “Kami kira lo ada di mobil, Di. Soalnya Abian ke sini sendirian tadi.”

“Tenang, Di, gue nggak lupa kunci pintunya kok” jelasku meyakinkan Andi.

“Hmmm … oke deh, gue ke mobil duluan ya.” Andi pun pergi menuju mobil sendirian setelah mendapatkan kunci mobil yang kuberikan.

Saat kami kembali menuju mobil, aku juga dengan jelas melihat seseorang duduk di kursi depan di mana tempatku duduk. Aku memegangi kepalaku saat itu, kepalaku tiba-tiba saja sakit. Badanku pun oleng, untungnya Nasya dengan sigap menangkapku. Dia segera memegangi dahiku.

“Bi, lu tiduran di kursi tengah aja ya. Badan lu anget.” ujar Nasya.

Nindya pun mengambil cemilan yang dipegang oleh Nasya. Nasya membopongku menuju mobil. Kemudian Nindya segera merapikan kursi tengah agar aku bisa berbaring.

“Di, Abian kayanya nggak enak badan. Dia hampir pingsan tadi.” jelas Nindya.

Andi pun segera membantu Nasya untuk membaringkanku.

“Abian sayang, ‘kan gue udah bilang berapa kali. Kalau lu nggak enak badan kasih tau gue. Lu tetep keukeuh bilang nggak kenapa-napa” cecarnya.

Aku yang sudah hampir kehilangan kesadaran hanya mengangguk lemah tanpa bisa membalas perkataan Andi. Aku hanya ingat setelah aku berbaring di tengah, Andi kembali menyetir dan segera menuju hotel tempat pamannya Nindya. Dan … berakhirlah aku di sini, terbangun di kamar hotel dengan keadaan yang begitu mengenaskan.

Makanan yang Andi berikan telah kuhabiskan. Aku segera merapihkannya kembali dan masuk ke kamar. Kulihat Andi sedang mengeringkan badannya dengan handuk.

“Gimana? ‘Dah habis makanannya? Mandi gih, dari kemarin lu keringetan. Kagak bau apa?”

Aku mengendus badanku, perkataan Andi benar juga. Dia pun memakai bajunya.

“Nindya sama Nasya udah ga sabar tuh pingin cepet-cepet main air. Lu kalau nggak mau mandi sekarang ‘ntaran aja sesudah main air.”

Sebenernya aku enggan untuk bermain air di pantai karena aku tidak bisa berenang.

“Jam segini masih panas, Di. Yakin mereka mau main sekarang? Biasanya mereka bakalan ngeluh kalau kena panas dikit,” alibiku.

“Ya elah Bi, gausah bohong. Gue tau kok lu nggak bisa renang, ga usah pake alasan kaya gitu hahaha. Ya udah, lu mandi dulu aja. Gue tungguin di bawah ya.” jawabnya yang membuatku–sudah pasti–tidak bisa menolaknya.

Aku pun segera mandi dan memakai baju yang menurutku tipis karena jika aku keluar dari kamar ini maka udaranya akan sedikit panas. Aku segera turun ke bawah dan tak lupa mengunci pintu kamar.

“Tuh Abi udah datang!” ujar Nindya.

Kulihat mereka sudah siap dengan setelan pantai mereka. Aku tersenyum sembari mendatangi mereka.

“Wihhh kayanya ada yang udah seger banget nihhh,” sambut Nasya.

Aku hanya terkekeh pelan. Andi mengalungkan tangannya di pundakku. Dia mengacak-acak rambutku.

“Apa gue bilang, sebenernya Abi tuh yang paling semangat.” ucap Andi.

Nindya dan Nasya memukul pelan lenganku.

“Iya donggg, kita ‘kan kesini mau liburan. Terus nih si Abi pake drama pingsan-pingsanan segala” tambah Nindya.

Kami bertiga tertawa bersamaan. Kami pun segera pergi menuju pantai yang jaraknya tidak begitu jauh dari hotel dan bersenang-senang di sana sampai sore hari.

– – – – – – – – – –

“Seru banget! Akhirnya bisa main di pantai bareng kalian! Udah lama banget gue ingin nikmati momen ini.” kata Nasya begitu bersemangat.

“Iya Nas, bener banget! Sumpek tiap hari kerjaannya di rumah, kantor, sama jalanan kota yang macet!” tambah Nindya.

“Tapi lu ‘kan bisa kapan aja ke sini Nin, secara hotel itu kan punya paman lo,” sahut Andi yang dibalas kekehan Nindya.

Kami melangkah kembali menuju hotel. Badan kami telah basah kuyup demi menikmati momen-momen diterjang ombak yang menyeret kami ke bibir pantai. Awalnya aku cukup ragu untuk bermain air hari ini. Tetapi jika dilakukan bersama teman, ternyata rasanya begitu mengasyikkan. Kami membilas badan kami yang penuh dengan pasir di tempat bilas yang telah disediakan hotel. Untung Nindya merupakan keponakan dari pemilik hotel, jadi kami bisa mendapatkan handuk ekstra. Kemudian kami kembali ke kamar masing-masing. Kamar Nindya dan Nasya letaknya ada di lantai dua, sedangkan aku dan Andi di lantai tiga. Sesampainya di kamar aku segera mencuci kaki lagi dan menyiapkan pakaian ganti.

“Bi, boleh gue duluan yang mandi? Gue udah cape banget nih, pingin istirahat,” pinta Andi sedikit memelas.

“Muka lu ga usah melas gitu dong. Kaya anak kecil aja! Ya boleh lah, ya udah sana gih duluan mandinya. Jangan lama-lama!” jawabku.

Andi kemudian mengacak-acak rambutku yang lumayan basah kemudian masuk ke kamar mandi.

Aku melihat jam dinding yang ada di kamar, baru pukul lima sore. Aku menimang-nimang sejenak, beli oleh-oleh untuk Nana kapan ya? Sekarang atau besok ya? Aku melihat ponselku untuk melihat ramalan cuaca malam ini. Di sana tertulis malam ini cuacanya cerah bahkan bintang pun terlihat. Lalu ramalan esok hari akan ada hujan dengan intensitas ringan sampai sedang dari siang hingga malam hari. Aku pun memutuskan agar membelikan oleh-oleh untuk Nana malam ini saja. Supaya jika masih ada yang kurang bisa dibeli esok hari.

“Bi, gue udah nih mandinya. Buruan lu mandi, liat tuh lantainya jadi kotor sama basah gara-gara lo!” sindir Andi.

Aku segera mengambil bantal yang dapat kuraih dan kulayangkan tepat ke wajahnya. “Kan lu yang minta duluan, kok lu sekarang nyalahin gue sih?” protesku yang dibalas gelak tawa nyaring Andi.

Aku pun segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan badanku yang masih menyisakan pasir dari bilasan tadi. Kunyalakan shower dan berdiri di bawah guyuran airnya. Ahh … segarnya.

Selesai mandi, aku melihat Andi sudah tertidur pulas atas kasur. Aku bahkan sampai bisa mendengar suara dengkuran dalam tidurnya. Pasti dia bener-bener kelelahan karena udah nyetir seharian kemarin dan belum sempat istirahat cukup, ucapku dalam hati.

“Di … Andi,” panggilku sembari menggoyangkan bahunya pelan.

Hmmmm?” sahutnya setengah sadar.

“Gue keluar dulu ya, mau cari cendera mata untuk Nana. Lu mau dibawain apa?” tanyaku.

Dia tidak menjawab dan kembali tertidur. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Mungkin aku akan membawakan makan malam saja karena kami hanya mendapatkan jatah makan pagi dari hotel. Kemudian aku pun keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar. Aku bertemu dengan Nasya dan Nindya di bawah.

“Hei, kalian mau kemana?” tanyaku.

Nindya pun menoleh. “Kita mau cari makan malem sambil jalan-jalan cantik. Siapa tau nemu jodoh, mumpung malam minggu gini hahaha. Gue udah chat lu barusan buat ngajakin makan malem bareng.”

“Andi mana?” tanya Nasya

“Oh gitu, sorry gue belum cek ponsel lagi,” jawabku sembari menggaruk tengkuk, “Andi ada kok di kamar, lagi tidur pulas banget. Kayanya kecapekan dia, apalagi kemarin habis nyetir seharian juga kan.”

“Ya sudah kalau begitu. Lu mau ikut bareng kita gak? Tapi kita nggak akan makan makanan hasil laut, gue alergi terus Nasya juga maunya makan ayam krispi.” jelas Nindya.

Aneh banget, bukannya aji mumpung di pantai bisa makan makanan hasil laut.

“Iya deh pecinta ayam krispiiiiii,” sindirku pada Nasya, “kalian berdua aja nggak apa-apa gue mau keliling dulu. Belum sempet foto-foto pemandangan di sini juga.”

Mereka pun mengangguk dan segera pergi keluar untuk melanjutkan aktivitas mereka. Aku duduk sebentar di lounge hotel dan membuka AtMaps untuk melihat jarak dan letak toko-toko cendera mata yang ada di sekitar hotel. Karena aku cukup iseng, aku sempat melihat ulasan-ulasan tentang hotel yang kami singgahi ini.

Ulasan satu : “Hotelnya bener-bener bagus, bintang lima deh. Nggak jauh dari pantai juga, pelayanannya ramah, makanannya pun enak. Kalau liburan ke sini pasti akan menginap kembali di hotel ini.”

Ulasan dua : “Bagus, ada harga ada kualitas. Bintang lima.”

Ulasan tiga : “Bangunannya tetap terjaga. Dari tahun ke tahun selalu terawat dan fasilitasnya semakin lengkap saja.”

Ulasan empat : “Hotelnya Bagus.”

Aku terkikik pelan membaca ulasan tadi. Sejauh ini ulasannya cukup bagus dan aku pun sempat menemukan satu ulasan yang cukup membuatku kebingungan.

Kalau sudah malam, suasana hotel ini benar-benar mencekam. Saya berniat untuk mencari angin malam saja dan berjalan-jalan di sekitar hotel. Namun saya mendengar kegaduhan yang tidak jelas dan cukup menggangu, padahal saat itu pukul dua pagi. Sungguh buruk sekali.

            Aku menjatuhkan badan ke sandaran kursi. Tidak mungkin, sudah jelas-jelas suasana di hotel ini begitu hangat dan nyaman. Ulasan itu pasti ditulis oleh orang yang ingin menjatuhkan hotel milik pamannya Nindya ini. Tanpa sadar, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku pun bergegas menuju tempat cendera mata yang jaraknya sekitar sepuluh menit dari hotel.

Aku melihat-lihat cendera mata yang ada di toko ini. Ada pakaian pantai, kalung, gelang, anting, tas kerajinan lokal, topi pantai, dan pernak-pernik lainnya. Aku sempat kebingungan untuk membeli oleh-oleh apa untuk Nana.

Badhe gelek nopo, Mas?” tanya penjaga toko ramah sambil menghampiriku.

Aku terdiam sebentar karena tidak mengerti apa yang dia katakan.

“Maaf, Mas, mau mencari apa?” Ia mengulang pertanyaannya seakan paham atas bahasa tubuh yang kuberikan.

Aku menjelaskan kepadanya sedang mencari cendera mata untuk teman perempuanku. Dia pun menunjukkan sebuah anting yang katanya begitu spesial. Anting ini seratus persen kerajinan lokal buatan warga sini katanya. Bahannya pun tidak kalah dengan anting-anting lainnya. Aku sempat ingin membeli anting itu, namun aku ingat Nana jarang sekali memakai anting. Tetapi jika membayangkan Nana memakai anting mungkin dia akan terlihat manis.

Pipiku sedikit merona karena membayangkannya.

Akhirnya aku memutuskan untuk membeli anting itu saja, aku juga membeli beberapa pernak-pernik untuk Kasna dan adikku di rumah.

Ngapunten, Mas. Masnya sedang liburan ya?” tanya penjaga toko itu berhati hati.

Aku mengangguk.

“Di Hotel Panorama Purnama?” tanyanya lagi.

Aku pun kembali mengangguk sembari memberikan uang untuk membayar.

“Hati-hati ya, Mas. Jangan keluar hotel malam-malam.” pesannya berbisik.

Aku hanya mengeryitan dahi kebingungan.

“Memang ada apa ya, Mbak?” tanyaku penasaran.

Dia hanya menggeleng dan tidak menjawab pertanyaanku. Dia juga kembali melayani pelanggan yang datang.

Hhhhhh … aneh sekali perkataan mbak penjaga toko yang tadi. Aku pun keluar dari toko. Ketika aku mendongakkan kepalaku, bulan purnama terlihat begitu jelas dan indah. Jarang sekali aku dapat melihat langit malam seindah ini karena di kota sudah tertutupi oleh polusi udara.

Aku memesan dua nasi goreng seafood untuk makan malamku dan Andi di hotel. Dari sini aku dapat melihat betapa megahnya hotel milik pamannya Nindya. Tidak mungkin ada hal yang aneh terjadi di hotel itu. Namun segera setelah aku berpikiran seperti itu, aku melihat kunang-kunang bertebangan di lantai empat hotel itu. Mereka seperti mengikuti seseorang.

Aku tersentak. Hampir saja aku terjatuh ke belakang. Sosok wanita berbadan ular itu lagi. Aku memegang kepalaku karena kembali merasakan pening.

“Ini Mas nasi gorengnya sudah jadi.” ucap sang penjual.

Aku buru-buru mengeluarkan uang di saku celanaku dan memberikannya lalu segera kembali menuju hotel.

Di tengah perjalanan aku bertemu dengan Nindya seorang diri yang sedang berada di dekat pantai.

“Nin, lu ngapain sendirian malam-malam gini di sini?” tanyaku sedikit heran.

Dia pun menoleh. Raut mukanya sedikit bersedih.

“Eh Bi, gue lagi nostalgia aja. Dulu gue kalau ke sini pasti bareng papah gue. Tapi sekarang dia sudah tenang di alam disana,” ucapnya.

Kudapat melihat setetes air mata keluar dari mata Nindya. Dia pun menyeka air mata itu seakan tak mau menujukkan kesedihannya di depanku. Aku mengusap punggungnya perlahan untuk menenangkannya.

“ Sssst … udah nggak apa-apa nggak usah sedih ya. Gue yakin papah lo udah tenang di sana ….” ucapku berusaha menenangkan.

Aku berpamitan kepada Nindya, dia bilang masih ingin bernostalgia dulu. Jadi ya sudah, karena sudah hampir larut aku segera kembali ke kamar hotel.

Sesampainya di kamar, kulihat Andi masih tertidur pulas. Aku tidak tega membangunkannya untuk mengajaknya makan malam. Kuputuskan untuk makan sendiri dan setelahnya kubaringkan tubuhku di sampingnya. Karena aku masih cukup penasaran mengapa mbak penjaga toko tadi berkata seperti itu dan ulasan aneh tentang hotel ini. Aku membuka ponselku dan membuka situs pencarian bebas.

Aku mencari artikel seputar pantai. Mulai dari hal-hal pamali, mitos-mitos, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan pantai. Tidak ada yang aneh dan cukup wajar menurutku. Kebanyakan isinya bercerita tentang mitos pantai selatan. Salah satunya adalah tentang Dewi penguasa pantai dan laut selatan yang suka mencari mangsa dengan mengenggelamkan orang-orang. Karena aku orangnya tidak terlalu percaya dengan mitos, jadi kuanggap artikel ini hanya angin lalu.

Tapi ada satu artikel yang membuat jantungku benar-benar berdegup dengan kencang. Artikel itu berisikan tentang sebuah kamar yang dikhususkan untuk Ratu laut selatan. Lebih mengejutkannya lagi, artikel ini menyebutkan ciri-ciri tempatnya persis seperti ciri-ciri hotel milik pamannya Nindya. Aku tak sanggup lagi membaca isi artikel itu. Pikiranku berkelana, berspekulasi mengenai sesuatu yang tidak-tidak tentang hotel ini sekarang. Padahal hotel ini milik pamannya teman baikku sendiri. Terlebih di sini juga disebutkan bahwa di sekitaran hotel ini terdapat sebuah gua yang merupakan pintu portal untuk masuk ke alam ghaib. Hal ini membuatku kembali teringat tentang mimpi aneh yang kualami tadi pagi. Aku segera menutup dan menyimpan ponselku di nakas kecil sebelah kasur. Aku mencoba melupakan isi artikel itu dan segera tidur.

– – – – – – – – – –

“Abian, akhirnya kamu sampai juga di tempat di mana ajal akan menjemputmu.” ucap wanita itu lagi.

Astaga. Mimpi ini lagi.

Namun kali ini aku bertemu dengannya di hotel pamannya Nindya.

Bagaimana bisa?!

“Kali ini apa maumu? Tak cukup kau menganggu pikiranku?!” amarahku mulai keluar.

Kudengar dia tertawa bahagia. Suara tawanya begitu mengerikan dan bahkan hampir terdengar seperti rintihan kesakitan.

Aku kembali merasakan dingin menjalar di tubuhku. Kini aku lebih siaga, aku segera mengeluarkan ponselku dan membuka aplikasi code atma. Aku segera memanggil Noni untuk meminta pertolongan. Namun nahas, ketika aku melihat melalui aplikasi ini, Noni sudah diikat olehnya.

“Tidak ada yang dapat menolongmu, Abian. Aku telah berhasil membuat atma penjagamu tak dapat berkutik!” ucapnya dengan sombong.

“Kini kau hanya sendirian, teman-temanmu sudah kuberi mantra untuk ikut patuh kepadaku. Kini hanya tinggal dirimu saja, Abi. Apakah kau akan bergabung menjadi abdiku?” tanyanya.

Aku kebingungan, rasa amarah sekaligus takut menyelimuti diriku. Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa melawannya. Tanganku sudah mengepal begitu keras. Dia kembali mendekatiku. Tangannya memegang pundakku dan rasanya begitu dingin, sedingin es. Kini aku membalikkan badan dengan berani untuk menatap dirinya secara langsung.

Wajahku kini tepat berasa sekitar dua jengkal dari wajahnya. Ku tatap dia dengan raut wajahku yang sudah mengeras. Kulihat dia tersenyum meremehkanku.

“Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Kau sudah tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi. Aku tidak seperti atma-atma yang sering kamu hadapi. Derajatku lebih tinggi dari mereka. Apa Kasna tidak pernah memberitahu tentang diriku kepadamu?”

Kata-katanya begitu mengejutkanku. Karena aku baru menyadari, wujudnya memang sangat berbeda dari atma-atma lain.

“Aku juga bahkan dapat menampakkan diri dan dilihat oleh semua orang. Aplikasi yang kau punya tidak memiliki efek apa-apa bagiku. Asal kau tahu, banyak orang menyembahku. Mereka memohon untuk menjadi abdiku agar mendapatkan karunia kesejahteraan hidup. Apakah kamu tidak tertarik, Abian?” tanyanya sekali lagi, berusaha untuk meyakinkanku agar menjadi abdinya.

Tidak mungkin. Semua ini hanya ilusi. Aku harus segera terbangun dari mimpi ini.

“Aku akan memberimu kesempatan satu kali lagi, Abi. Akan kutunjukkan caranya melalui abdi-abdiku.” tambahnya lagi.

Kutatap lagi mukanya dengan tatapan mautku.

“Kau begitu sesat!” jawabku dengan amarah yang sudah meluap.

Dia menatapku balik. Mukanya berubah menjadi mengerikan. Matanya menyala. Dia mengeluarkan tongkatnya dan segera mengeluarkan mantra untuk menghancurkan gedung ini. Dia tertawa bahagia.

“Hahahahahaha, aku harus melihatmu mati di tanganku, Abian!” ancamnya.

Dia segera melenggang pergi dari tempat ini. Tubuhku sudah dibekukan olehnya. Aku tak bisa bergerak kembali. Bebatuan mulai berjatuhan. Aku pasrah. Aku pasti akan mati di tempat ini. Tubuhku mulai tertimpa bebatuan. Aku. Aku tak sadarkan diri.

– – – – – – – – – –

Aku tersentak bangun. Rasanya tubuhku benar-benar seperti tertimpa batu sungguhan. Kulihat ke samping, Andi masih tertidur pulas. Aku beranjak dari kasur dan keluar kamar, mencoba untuk menenangkan diri. Udara di lorong saat ini cukup hangat dan tidak begitu terik seperti siang hari. Aku berjalan menelusuri lorong lantai tiga. Hotel ini benar-benar luas, sampai-sampai seperti tidak ada ujungnya.

Namun mengapa semakin aku berjalan, suasananya semakin mencekam ya? Aku mencoba untuk naik ke lantai empat hotel ini karena ingin melihat-lihat saja. Kapan lagi ‘kan aku bisa ke hotel megah seperti ini lagi?

Tingg!

Pintu lift pun perlahan terbuka. Di depanku, aku dapat melihat sosok manusia setengah ular itu pergi menjauh dari lift. Aku segera berlari dan bersembunyi karena takut tiba-tiba saja dia menoleh ke belakang. Semerbak bau melati mulai tercium ketika aku keluar dari tempat persembunyianku. Baiklah, aku mengurungkan niatku untuk naik ke lantai empat.

Karena rasa penasaranku lebih mendominasi dan sudah benar-benar di ujung kepala, aku pun memberanikan diri untuk mengikuti sosok itu secara perlahan. Kuamati sekilas, sisik ularnya berwarna emas. Ukuran tubuhnya normal seperti manusia pada umumnya. Kulihat dia masuk ke salah satu kamar yang ada di ujung sana.

 

Dari sini terdengar suara-suara yang begitu gaduh. Padahal aku yakin, ini masih sepertiga malam. Orang-orang sedang beristiharat dan tidak mungkin membuat kegaduhan. Aku melanjutkan langkahku dan berhenti tepat di depan pintu kamar yang dia masuki. Kulihat ada segulung kertas di atas untaian bunga melati tepat di bawah pintu kamar ini. Pintu kamar ini memiliki warna yang berbeda dan letaknya pun sedikit berjauhan dengan kamar lainnya.

Aku membuka gulungan kertas ini perlahan. Di sana bertuliskan larangan untuk membaca isinya secara lantang. Aku membacanya dengan teliti. Gulungan ini berisikan … seperti langkah-langkah melakukan sebuah kegiatan. Ku baca isi gulungan dan tenyata–

  1. Jangan memakan makanan hasil laut sebelum melakukan ritual ini. Ini sebagai bentuk bahwa kamu menghargai sang Dewi.
  2. Mengitari pantai sebanyak tujuh kali ketika bulan purnama tanpa menggunakan alas kaki. Ucapkanlah ‘dewinipun kula, kula badhe dados abdinipun panjenengan’1 di putaran ketujuh, lalu bersujud menghadap pantai kemudian lemparkan emas menuju lautan.
  3. Meletakkan untaian bunga melati di depan kamar.
  4. Masuk ke kamar dan membaca perjanjian dengannya.
  5. Meneteskan darahmu sendiri di atas batu pusaka.

 

  • Pemberian karunia hanya akan berlangsung selama 7 tahun.
  • Jika kau ingi diberikan lagi karunia oleh-Nya maka kau harus menumbalkan manusia yang memiliki kemampuan untuk bertarung melawan atma di tempat ini.
  • Jika kau ingin memutus perjanjian, maka nyawamu adalah tumbalnya. Lalu keturunanmu akan terus merasakan penderitaan.

Belum selesai aku membaca isi gulungan ini, kudengar gumaman seseorang membacakan sesuatu di dalam sana. Bulu kudukku merinding, aku tau dia sedang melakukan apa. Aku juga tersadar mengenai ulasan yang kubaca kemarin malam. Kejadian ini benar-benar membuatku lemas seketika. Segera aku simpan gulungan ini lalu berlari terbirit-birit dengan sisa tenagaku untuk segera kembali ke kamar.

Sementara, sosok yang berada di dalam kamar itu tersenyum bahagia karena ia tahu mangsanya telah menyadari keberadaan dirinya.

– – – – – – – – – –

“Bii … Abian ….”

Kudengar seseorang memanggilku.

“Abi … Abian …”

Tubuhku diguncangkan olehnya.

“Abian … ayo bangun, udah pagi nih. Jangan ngebo terus ih.” titahnya.

Ini suara Andi!

Aku segera membuka mataku dan mengumpulkan nyawaku yang masih melayang.

 

“Lu mimpi buruk lagi ya?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk lemah. Kemudian Andi membawakan segelas air mineral untuk aku minum.

“Tidur lu bener-bener gak bisa diem, Bi. Kaya ketimpaan sesuatu.” jelasnya.

“Iya, Di, gue ketimpa durian runtuh. Tandanya gue mau dapat banyak uang nih. Hahahaha,” timpalku.

Dia hanya mengedikkan bahu. “Udah sana cepetan rapih-rapih. Kita bakalan sarapan di bawah. Nasya sama Nindya nungguin tuh.”

Aku pun segera mencuci muka, gosok gigi, dan merapikan rambutku. Ya udah cukuplah, nggak keliatan kaya orang baru bangun banget. Aku pun segera bergegas bersama Andi turun ke bawah untuk sarapan bersama.

Makanan yang disajikan cukup mewah, mungkin karena kami adalah teman-temannya Nindya. Selesai makan, Nasya menanyakan apakah kita ada kegiatan lagi atau tidak. Sebab Nasya perlu mengerjakan pekerjaan dadakan. Bos di divisi kami tiba-tiba meminta Nasya untuk memperbaiki report yang telah dikerjakan.

“Sesudah ini, gue mau ketemu om gue. Nggak tau ada apaan.” ujar Nindya sambil mengedikkan bahu.

“Kalau gue ya mungkin mau nyari oleh-oleh.” balas Andi.

“Hm … gitu ya … gue mau keliling hotel ini aja kayanya. Kapan lagi ke sini, kan?” jawabku.

Mereka pun mengangguk dan kami pun berpisah untuk melakukan aktivitas kami masing-masing.

Aku masih penasaran tentang kebenaran artikel yang kubaca semalam. Apa benar kamar itu ada di hotel ini? Aku masih duduk di ruang makan dan televisi di sini sedang menayangkan ramalan cuaca hari ini.

Ramalan cuaca hari ini: Hujan badai mungkin akan terjadi siang hari nanti. Kami beritahukan kepada para warga dan wisatawan yang sedang berlibur untuk berhati-hati. Jika bisa, diusahakan untuk tidak bermain di sekitar pantai bila langit sudah mulai menggelap.

Begitu khidmat aku mendengarkannya. Untung saja aku sudah membeli oleh-olehnya kemarin. Jadi aku bisa sedikit tenang untuk kembali menjelajahi hotel ini.

Aku mengingat kembali kejadian semalam, apa benar kamar yang aku temukan semalam adalah kamar khusus untuk Dewi pantai selatan? Aku mencoba kembali untuk menelurusi hotel ini. Kuputuskan untuk mendatangi kamar itu lagi dengan maksud membuktikan artikel yang kubaca itu hanyalah omong kosong dan kejadian tadi malam hanyalah halusinasi.

Begitu terkejutnya aku ketika melihat seseorang keluar dari kamar itu. Orang yang baru keluar itu pun terkejut karena melihat diriku.

“Bi, lu ngapain disini? Pasti habis baca artikel yang nggak-nggak ya?” tebak Nindya yang sudah jeals memiliki akses ke seluruh ruangan hotel ini.

Aku menggaruk tengkukku karena malu.

“Gue tegasin sama lu ya Bi, sebagai keponakan dari pemilik dari hotel ini. Apa yang lu baca di artikel itu cuma omong kosong doang. Kamar ini ditandai sama om gue karena salah perhitungan kontruksi. Isinya juga kosong kok. Lu mau liat?” tawarnya.

Aku mengagguk paham. “Iya, Nin, gue percaya lu kok. Gue yaa … Cuma penasaran aja, lu juga tau kan kalau gue udah penasaran bakalan kaya apa?”

Dia menepuk-nepuk bahuku. “Sekarang udah jelas, kan? Lu nggak usah percaya sama yang begituan. Ya udah gih sana, lu pasti belum puas ‘kan sama hasil foto-foto semalem? Gue yakin lu juga ada niatan buat foto di pagi hari kaya gini?”

Aku menyetujui perkataannya. Lalu kami pun turun ke lantai dasar dan berpisah di sana.

Ternyata tempat ini cukup luas juga, suasananya masih asri. Rasa penasaranku pun mulai berkurang karena penjelasan Nindya tadi. Tapi rasa ini belum juga menghilang, aku ingin membuktikan apakah benar di sekitaran daerah sini ada sebuah gua. Karena banyak batu karang yang terjal, siapa tau saja ada gua di tengahnya.

Aku terus menelusuri jalanan pinggir pantai, semakin lama aku tidak melihat pemukiman. Kicauan burung pun sepertinya enggan untuk menjadi latar suara penelusuranku. Semakin jauh aku menelusuri daerah ini, semakin sepi dan semakin rindang pula pepohononanya. Bahkan suara gemerisik ombak juga tidak terdengar. Lama kelamaan langit semakin menggelap, aku harus segera kembali ke hotel. Namun sebelum aku memutar arah, aku melihat ada rombongan orang berpakaian aneh sedang berjalan beriringan.

Aneh sekali, mengapa mereka berpakaian seperti itu?

Kuputuskan untuk mengikuti mereka secara diam-diam. Rasa penasaranku kembali memuncak ketika mereka tiba-tiba saja hilang dari hadapanku. Aku pun membalikan badan dan ….

BUG!

Sesuatu menghantam kepalaku dan aku langsung tidak sadarkan diri.

Aku terbangun dengan kondisi tanganku terikat. Di sini begitu gelap dan dingin. Ternyata aku tidak sendirian di sini. Meski samar, aku dapat melihat orang lain disekap sama sepertiku. Ada sekitar enam sampai delapan orang. Bahkan kepala mereka ditutupi kain hitam.

Tiba-tiba saja nyala obor menerangi tempat ini. Suasana di sini langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Kami sudah dikelilingi oleh orang-orang berpakaian aneh tadi. Mereka menyayat tangan mereka dan membiarkan darahnya menetes jatuh ke atas batu yang berada tepat di depan mataku. Keringat dingin terus membanjiri badanku. Aku tidak bisa bekata apa-apa selain menyaksikan semua aktivitas yang terjadi. Lalu mereka membaca sesuatu secara bersamaan dengan nyaring dan bergema.

 

Oh dewinipun kula, kula maringaken gesang kalih panjenengan.

Kula bakal senantiasa tansah taat lan gega dhateng titahipun panjenengan kersaaken.

Kula sampun mbeta tumbal ingkang panjengengan kersaaken.

Paringaken kula berkahipun panjenengan, berkah ingkang mboten wonten tara, berkah ingkang saged ndamel gesang kula senantiasa sejahtera.

Oh Dewinipun kula, paringaken kula kekuatanipun panjenengan kagem nglawan sedaya lawanipun panjenengan, kula badhe dados abdinipun panjenengan, abdi ingkang gega, taat, lan setia. Paringi kula berkahipun panjenengan.2

Tubuhku lemas, kepalaku benar-benar tidak bisa merespon kejadian yang aku saksikan tepat di depan mataku saat ini. Mereka membuka pakaian mereka. Mengejutkan! Tubuh mereka ternyata setengah manusia dan setengah ular.

Sssssssss ………

Suara desisan mereka benar-benar membuatku merinding. Di depanku pula, mereka berubah wujud menjadi manusia seutuhnya, memiliki dua kaki. Tempat ini seketika dipenuhi kunang-kunang. Aku sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi.

Satu persatu orang yang diikat, dibawa ke luar dengan diseret. Tubuh mereka terkulai lemas seakan-akan apa yang mereka ucapkan adalah sebuah mantra agar energi di dalam tubuhnya terkuras bagi siapa saja yang mendengarnya.

Dag … digg … duggg ….

            Dag … digg … duggg ….

Jantungku berdegup kencang. Seukujur tubuhku benar-benar lemas. Aku pasrah, aku pasrah karena aku tahu ini mungkin ajalku. Aku memejamkan mata ketika seseorang menghampiriku. Tetapi ketika aku membuka mataku, tempat ini sudah sunyi, sepi, gelap, dan dingin. Bahkan lebih dingin dari sebelumnya. Aku dapat mendengarkan suara langkah kaki dan suara retakan es.

Ha ha ha ha ha ha

Aku dapat mendengar tawa seseorang yang begitu bahagia. Seolah-olah dia telah memenangkan suatu pertandingan. Kulihat sepasang kaki muncul di depanku. Kudongakkan kepalaku. Wujud di depanku ini kemudian menunjukkan dirinya.

“Sudah bertemu denganku sebelumnya?” tanya wanita itu dengan seringaian terlukis di bibirnya.

Aku sudah tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi. Dia. Dia yang berada di depanku adalah wanita yang selama ini ada di dalam mimpiku.

“Kau baru saja melihat abdi-abdiku. Bagaimana? Apakah kau masih tidak tertarik untuk menjadi abdiku, Abian?” Ia masih berusaha menghasutku.

 

Dia mengusap-usap pipiku perlahan. Aku merinding dibuatnya. Rasanya seperti mimpi, tapi mimpi ini terlalu nyata. Napas dan tangannya sedingin es.

Wanita itu mengangkat tangannya yang membuat ikatan tali di seluruh tubuhku terlepas semua. Tubuhku terkulai lemas jatuh kebawah, posisiku kini terlentang ke atas menghadap wajahnya.

“Sudah siap dengan aj –

ARGHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!”

Dia berteriak nyaring seperti kesakitan. Aku terkejut. Tepat setelah itu, wujudnya berubah menjadi mengerikan. Persis seperti yang kujumpai dalam mimpi. Dengan sisa tenaga yang ada, aku mencoba untuk bangkit agar dapat melihat apa yang sedang terjadi. Kulihat dirinya memegangi bahunya, bahunya terluka. Ponselku meluncur begitu saja turun dari saku celanaku. Terlihat di layar aplikasi Code Atma sedang di buka.

Ihihihihihihihihihiiihi

Aku dapat mendengar suara itu, suara Noni!. Aku segera menggapai ponselku dan mengarahkannya kepada wanita itu. Kulihat Noni dengan akarnya mencabik-cabik wanita itu. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, wanita itu mengeluarkan tongkatnya dan membuat Noni membeku. Suara gemertak es begitu terdengar keras. Di hadapanku, dia meretakkan Noni dengan satu gengaman tangannya saja.

Air mataku menetes, jantungku berdegup kencang, keringat mengucur deras dari pelipisku, dan tubuhku kembali lemas. Noni telah tiada. NONI TELAH TIADA! Atma penjagaku kini telah tiada, dia hancur begitu saja tepat di hadapanku. Aku kalah dalam pertarungan mistis ini. Kini wanita itu membalikan badannya menghadapku. Tawanya kembali menggelegar dan mengerikan. Rasanya aku sudah tidak sanggup, bahkan untuk mendengar suaranya saja.

“Kau dapat melihatnya bukan? Aku ini tidak sebanding dengan atma yang sering kau hadapi! Kini atma penjagamu lenyap! Kau sudah tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi. Bahkan Kasna pun tidak akan bisa membantumu! Hahahahahahahahaha.” ujarnya sambil tertawa meremehkanku karena ia menang.

Amarahku membumbung tinggi ketika mendengar ucapannya barusan. Perasaanku kalut, tanganku sudah terkepal kuat, dan emosiku sudah tak dapat terbendung lagi. Aku murka dibuatnya.

“BAJINGAN KAU!!” teriakku lantang dan berusaha untuk memukul dirinya.

Dia dapat menghindari pukulanku dengan begitu cepat.

“Abian … Abian … manusia biasa sepertimu tidak akan kuat melawanku. Terima saja kekalahanmu dan terimalah penderitaanmu yang tidak akan ada ujungnya, HAHAHAHAHAHAHA!” Ia tertawa lagi.

Sedetik kemudian, dia pun menghilang pergi.

Aku memukul-mukul tanah. Buku-buku jariku sudah memutih, tapi aku tak peduli. Aku marah kepada diriku sendiri. Mengapa aku menjadi selemah ini di hadapannya? Mengapa aku tidak dapat melindungi Noni? Aku mengacak-acak rambutku kasar dengan penuh rasa frustasi. Dewi yang mereka puja-puja itu tidaklah memberikan kebahagiaan, namun memberikan luka dan penderitaan berskala panjang karena pemutusan perjanjian dengannya begitu berisiko.

Drtttt … drtttt ….

            Ponselku bergetar, aku segera menjawab telepon yang masuk itu.

ABI! LU DIMANA!? LU HARUS CEPET BALIK KE HOTEL! BADAI BESAR BAKALAN DATANG!” teriak Andi diseberang sana.

Suaranya bergetar, aku juga dapat mendengar suara ricuh orang-orang yang sangat jelas. Aku segera mematikan telepon itu dan berlari dengan air mataku yang menetes. Arrgghh aku merasa menjadi orang yang tidak berguna saat ini.

– – – – – – – – – –

Suara tanda bahaya sudah berbunyi di sekitaran pantai. Suaranya begitu memekakkan telinga. Keadaan di sini kacau balau. Kunang-kunang bertebangan di sepanjang area ini. Sebelumnya aku tidak pernah kunang-kunang sebanyak ini. Ini merupakan pertanda buruk. Aku melihat ke arah pantai. Ombaknya begitu deras seolah-olah lautan sedang mengamuk. Orang-orang berlarian menjauh dari pantai. Banyak sekali orang -orang di pantai. Aku tidak bisa berdiam diri saja, aku harus bisa menolong mereka. Cukup orang-orang yang kulihat di dalam gua tadi saja yang menjadi korbannya. Para pengunjung yang berada di sini tidak boleh sampai mati konyol hanya karena keserakahan Dewi laut itu.

Aku membantu orang yang terbawa derasnya ombak untuk kembali ke bibir pantai. Para petugas pun sudah memenuhi lokasi ini. Aku melihat ombak besar datang. Tingginya hampir tiga kali tinggi rata-rata orang dewasa. Kami semua berusaha kabur sebisa mungkin. Namun sepertinya keberuntungan tidak memihakku. Sudah saatnya ajal memang harus menjemputku. Aku tidak berhasil mencapai titik aman. Aku terbawa oleh arus ombak ini.

“TOLONG! TOLONG SAYA!!” teriakku sekencang mungkin.

Aku berharap siapa pun mendengarku dan menolongku.

“ Tolong!!” teriakku secara berulang.

Aku menendang-nendang air agar tidak tenggelam.

“Tolong! Saya tidak bsia berenang!! Tolongg!!!” Entah sudah kesekian kalinya aku berteriak, suaraku sudah serak.

Tubuhku lemas karena harus melawan arus ini. Kepalaku mulai menyentuh air. Mataku pun sudah sangat perih. Sepertinya aku harus pasrah dengan takdir tenggelam di laut selatan ini.

Namun tiba-tiba saja aku dapat merasakan seseorang memeluku kemudian menarikku. Mulutku sudah penuh dengan air, aku tersedak. Seseorang ini terus menyeretku hingga aku bisa mencapai bibir pantai.

“Abi!! Abi!! Sadar Abi!!” teriak orang itu berusaha menyadarkanku.

Dadaku ditekan olehnya beberapa kali. Dia terus meneriakan namaku. Aku merasakan mual ditubuhku. Aku tersentak bangun dan kemudian memuntahkan air yang tersedak olehku. Orang ini memelukku. Sangat erat. Begitu pula wanita yang berada di belakangnya.

“Abi!!!” teriaknya, “syukurlahhh, lo selamat! Gue ga mau kehilangan lo, Bi. Gue ga ngerti lagi kalau sampai lo pergi ….” ucapnya bergetar.

Mataku memanas, kuyakin mataku pasti merah. Kulihat sosok yang menolongku. Dia adalah Andi. Andi temanku. Kurasakan ada orang lain yang memelukku.

“ Abi ….” panggilnya dengan suara parau. Ini suara Nasya.

Mereka berdua sangat khawatir melihat keadaanku yang cukup mengenaskan.

Tiba- tiba saja seseorang menerjang kami. Aku melihat Andi dicekik oleh seseorang sampai tubuhnya terangkat ke atas. Astaga! Cobaan apalagi ini?!

Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….!!

Nasya berteriak histeris.

“NGAPAIN LO NYELAMATIN DIA, HAH? NGAPAIN?!!!!” hardik orang itu murka.

Mataku membelalak kaget seraya berucap lemah. “Nindya … kenapa kamu … ??”

“SEMUA RENCANA GUE GAGAL GARA-GARA LO ANDI!” ujar Nindya dengan penuh amarah.

Dia menjatuhkan tubuh Andi begitu saja. Aku dan Nasya beringsut mundur menjauhi Nindya. Kondisi laut pun semakin kacau. Langit sudah sangat gelap, petir bergemuruh dengan dahsyatnya. Lalu muncul pusaran air yang sangat deras arusnya.

“SEHARUSNYA LO BIARIN ABIAN MATI DI! LO HARUSNYA BIARIN DIA MATI! DIA CUMA BISA NYUSAHIN LO!” hardik Nindya lagi.

Nindya menatap kami secara bergantian. “ASAL KALIAN TAU YA, TUJUAN GUE BAWA KALIAN KESINI KARENA KALIAN ADALAH TUMBAL YANG HARUS GUE BERIKAN! GARA-GARA DEWI SIALAN ITU! PAPAH GUE MATI! MATI DENGAN TUBUH MENGENASKAN!” racaunya tidak jelas.

“PINTANYA HANYA SATU, DIA INGIN LO MATIAN ABIAN!” ucapnya sambil menunjukku

“KALAU LO MATI, SEMUA PENDERITAAN YANG GUE ALAMI INI AKAN BERAKHIR! PERJANJIAN GUE DENGAN DIA AKAN BERAKHIR! TAPI APA?! TAPI BAJINGAN SATU INI MALAH MENGGAGALKAN SEMUA RENCANA GUE!!” murkanya sambil menendang Andi begitu saja.

Dengan sisa tenaganya, Andi berusaha menahan serangan Nindya.

“Lu pikir ada di bawah kuasa perjanjian dengan dia gampang, hah?! GAMPANG HAH?!” Nindya terus murka tiada habisnya.

Kulihat di sana, ombak semakin tinggi bersamaan dengan sosok yang muncul dari dalam air. Kusuruh Nasya untuk segera pergi dari tempat ini karena–aku yakin–dia benar-benar shock atas semua kejadian ini. Kulihat Andi mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya kepada Nindya.

Arghhhhhhhhhh!!!

Nindya berteriak kesakitan. Aku dapat melihat Mustika, atma pelindung milik Andi, menyerang Nindya. Andi berlari mendekatiku dan segera menyuruhku berlindung di belakangnya. Nindya beteriak murka, dia berubah wujud di depan kami. Matanya merah menyala, rambutnya mengeras menjadi tajam dan wujudnya berubah menjadi manusia setengah ular,

            HA HA HA HA HA HA HA

            Tawa sang Dewi menghampiri kami, ombak kian membesar. Orang-orang berteriak dan berlari ketakutan. Bahkan petugas pun kewalahan untuk mengevakuasi orang-orang sebanyak ini.

“Bagaimana? Kau sudah bertemu dengan abdi setiaku? Sekaligus panglima yang kumiliki?” tanyanya.

Kami bergerak mundur. “Apa maumu?! Jangan lukai orang-orang yang tidak bersalah ini!” ucap Andi berusaha melawannya.

“Sepertinya saya sudah tidak perlu lagi memperkenalkan diri kepada kalian. Saya hanya akan menyampaikan satu pesan sebelum saya pergi membebaskan kalian,” ucapnya penuh ancaman, “mulai hari ini, jiwa kalian berdua tidak akan aman. Kalian akan terus saya hantui sampai saya dapat melihat kematian kalian di depan mata kepala saya sendiri” lanjutnya yang kemudian mengarahkan tongkat dan petir pun muncul.

Dia kembali menuju lautan bersama Nindya yang ternyata selama ini merupakan abdinya. Aku dan Andi benar-benar tidak menyangka selama ini teman baik kita memiliki niatan yang begitu buruk dan ingin mencelakai kami. Badai beringsut seiring kepergian mereka, derasnya ombak mulai berangsur-angsur tenang. Tubuhku lunglai, aku jatuh terduduk ke lantai pun bersamaan dengan Andi.

– – – – – – – – – –

Setelah kejadian siang tadi, kami segera berkemas barang bawaan. Kami memutuskan untuk kembali ke kota saat itu juga. Sebelum kami pulang, seseorang menghampiriku.

“Maaf Mas. Permisi, sepertinya ini punya Mas.” ucapnya sembari memberikan sebuah cincin kepadaku.

“Apa ini, Mbak?” tanyaku.

Ternyata orang ini adalah penjaga toko souvenir yang kukunjungi kemarin. Dia mendekatiku lalu berbisik. “Saya juga memiliki kekuatan seperti yang Mas punya. Saya seorang seeker.” akunya.

“Serpihan jiwa atma pelindungnya Mas masih dapat ditolong. Atma milik Mas masih bisa bertahan, tapi mungkin butuh waktu sedikit lama sampai dia benar-benar pulih.” Dia mengeluarkan ponselnya lalu mengarahkannya ke ujung jalan.

Di sana terdapat perempuan berpakaian hijau dengan kupu-kupu bertebangan di sekekelingnya. Aku tidak dapat menahan senyumku, aku tersenyum selebar yang kubisa. Berarti tandanya Noni dapat hidup kembali. Aku mengucapkan beribu-ribu kali terima kasih kepadanya. Orang itu hanya tersenyum kemudian kembali ke tempat Ia berasal.

Nasya menghampiriku. “Ayo Bi, semuanya udah beres. Kita harus cepet-cepet balik ke kota.” ajaknya.

Aku segera masuk ke dalam mobil dan Andi pun menyalakan mesin Mobil. Di saat Andi baru saja menekan pedal gas, ponsel kami semua berbunyi menandakan pesan masuk. Nasya yang kebetulan sedang memegang ponsel segera membacakan isi pesan tersebut.

“Ini baru saja permulaan dari derita yang harus kalian alami. Kami akan selalu mengintai kalian dari kegelapan. Tidak akan ada satu pun dari kalian yang akan menyadari kehadiran kami. Kalian telah membuat sang Dewi murka. Jika kalian telah membuatnya murka, maka kematianlah yang akan kalian temui selanjutnya.”

 

 

 

 

–  TAMAT –

 

 

Author

Muhammad Ghifari