KENCAN TERAKHIR

Take me out tonight

Where there’s music and there’s people

And they’re young and alive

 

“Wah kakak dengerin The Smiths juga?!” ujar si gadis remaja yang duduk di sebelahku di mobil.

 

“Oh iya, gua emang suka banget sama Morrissey dari dulu,”

 

Tidak bisa dipungkiri memang menyetel playlist yang tepat selalu menjadi solusi terbaik untuk berkenalan. Ya, berkenalan. Kamu mungkin berpikir aku kenal cewek ini atau mungkin dia ini adikku. Tapi tidak, aku baru bertemu dia malam ini. Kami kenalan di dating app, dan remaja ini dengan mudahnya mau kuajak pulang.

 

Awalnya aku cukup heran kok bisa segampang ini dia nurut. Mungkin budaya barat memang begitu ya. Tadinya aku pikir foto yang dia pakai itu palsu, tapi begitu bertemu ternyata dia memang seperti apa yang ditampilkan di foto. Rambutnya pirang dengan dua kuncir lucu, dan warna kulitnya cukup pucat untuk orang sini. Mungkin dia anak diplomat.

 

Aku jelas tidak akan komplain. Wanita muda cantik ini sekarang bersamaku, setidaknya untuk malam ini, dan dia tampak persis seperti di foto! Tidak sepersis itu sih, karena foto yang dia unggah tampak buram. Setidaknya dia tidak tampak buram seperti hantu di dunia nyata.

 

“Kakak mikirin apa, kok senyum-senyum sendiri gitu?” tiba-tiba gadis itu bertanya sambil mendekatkan wajahnya kepadaku.

 

Ugh, dia imut banget! Ujarku dalam hati.

 

“Oh nggak, nggak mikir apa-apa kok,” jawabku dengan sedikit panik.

 

“Ayooo mikir yang nggak-nggak ya, hehehe.”

 

“Udah ah, kamu deket-deket gitu nanti kenapa-kenapa lho kita, apalagi ini lagi ngebut di jalan tol,” jawabku. Sial, tukang goda juga dia, ini semakin menarik.

 

 

Take me out tonight

Because I want to see people

And I want to see life

 

“Ini tuh liriknya tentang cowok yang minta diajak pesta ya? Kok dia kayak kesepian gitu sih?” gadis itu bertanya.

 

“Iya, kamu suka emangnya dateng ke party?”

 

“Suka banget! Tapi aku sukanya pesta yang kecil-kecilan.”

 

“Oh, yang lebih private gitu ya?”

 

“Iya, dan biasanya aku ga diundang pake lagu ini, hihihi,” entah kenapa mendengarkan jawabannya itu membuatku sedikit merinding.

 

“Oh ngundang kamu harus pake lagu sendiri? Kayak gimana memang lagunya?”

Apa yang kau lakukan bodoh?! Kenapa harus ikutan obrolan konyol seperti ini, pikirku dengan tidak nyaman.

“Boleh, lagunya biasanya dimulai dengan manggil namaku, terus lirik lanjutannya begini…”

 

 

Di sini ada pesta

Pesta kecil-kecilan

Datang tak dijemput

Pulang tak diantar

 

 

Begitu mendengar lirik tersebut, bulu kudukku langsung berdiri semua.

 

“Ka-kamu bercanda ya? Itu kan lagu…”

 

“Nggak bercanda kok,” ia memotong kalimatku, “tapi kalau dipikir-pikir lagunya sudah pas banget dengan keadaan kita berdua sekarang ya.”

 

“Ma-maksud ka-kamu gimana?” perasaanku semakin tak enak.

 

“Kan aku mau ke tempat kakak buat pesta kecil-kecilan, terus tadi aku ga dijemput karena kita ketemu di kafe, nanti juga pulang ga diantar kan.”

 

“Aku pasti antar kok, masa iya aku nggak mau nganter kamu pulang.”

 

“Oh, bukan masalah kakak mau atau nggak nganter aku…”

 

“Tapi…?”

 

“Tapi apakah nanti kakak bisa nganter aku?”

 

“Bi-bisa kok, aku ga perlu bangun pagi besok.”

 

“Oh, aku salah milih kata, lebih tepatnya … mampu ga kakak nganter aku sehabis pesta kita nanti,” gadis itu menjawab dengan nada yang dingin.

 

Aku mengalihkan mataku dari jalan ke arah dia sekejap. Tampak senyuman licik … bukan, senyuman jahil rasanya lebih tepat untuk mendeskripsikannya.

Aku bergegas mencari topik lain, “udah ah jangan bercan…”

 

And if a double-decker bus crashes into us

To die by your side is such a heavenly way to die

And if a ten-tonne truck kills the both of us

To die by your side, well, the pleasure, the privilege is mine

 

 

Ucapanku terpotong reff lagu yang tengah berputar. Morrissey anjing! Kenapa bikin lirik serem banget sih! Aku berteriak dalam hati.

 

“Kalau kita mati di mobil ini bersama sekarang? Menurut kakak itu cara mati yang baik nggak?” tiba-tiba dia bicara.

 

“Udah aku bilang kamu bercanda jangan aneh-”

 

“Kenapa? Cuma ditanya gitu doang kok takut?” ia memotongku lagi.

 

“BERISIK!” aku mulai emosi dan-

 

DIIIIIIIIIIN!!

 

“Sialan!” aku segera menginjak rem. Hampir saja aku tertabrak truk yang melaju dari lajur lain. “Lihat tuh! Kamu ga bisa berhenti ngomong aneh-aneh kita sampai hampir mati!”

 

“Lalu?” Aku sempat bingung dengan jawabannya yang ia ucapkan dengan begitu tenang.

 

“Emang kamu siap mati hah?!” aku membentaknya.

 

“Hahaha!”

 

“Kamu gila ya?!”

 

“Aku setuju sih sama Morrissey…”

 

“Eh?”

 

“Mati instan ketabrak truk sekarang itu enak, penderitaannya nggak lama.”

 

“Lo sinting beneran ya!”

 

“Tau mati yang nggak enak gimana?”

 

“Gua ga peduli sama pertanyaan orang gil-”

 

“Dwi Andini Ningsih.”

Ia memotongku lagi, tapi kali ini yang ia ucapkan langsung membuatku terdiam. Keringat dingin mulai membasahi kemejaku.

 

“Kok diam aja? Kamu kenal nama itu?”

 

“A-aku … Nggak! Aku nggak kenal nama itu!” tentu saja aku berbohong.

 

“Oh, mungkin kamu lupa. Coba aku ingatkan, Dwi Andini Ningsih, 15 tahun, dia baru saja masuk SMA dan sedang semangat-semangatnya menghadapi masa depan yang cerah. Ia selalu masuk sepuluh besar di kelas, cantik, disukai semua orang di sekitarnya, dan seperti namanya, ia sangat penuh dengan cinta dan penurut.”

 

“Aku ga peduli sama temanmu-”

 

“SAAT AKU BERBICARA, KAMU DIAM DAN DENGARKAN!”

Suasana langsung hening, CD player mobil pun langsung mati tiba-tiba. Udara jadi terasa berat seakan-akan ada yang menaikkan suhu AC sampai jadi penghangat ruangan, tapi aku malah merasa kedinginan.

 

“Boleh aku lanjutkan?” gadis itu bertanya dengan nada normal lagi, aku tidak menjawab.

 

“Aku sangat dekat dengan Dwi, saking dekatnya bahkan aku selalu bersama dia tiap saat dari dia lahir. Hubungan yang betul-betul mengikat. Saking dekatnya, sampai-sampai kalau kami tidak bersama,” ia berhenti sejenak, “kami bisa mati.”

Aku masih terdiam.

 

“Wah, jadi anteng nih tiba-tiba? Aku akan bertanya sekarang, dan kamu akan menjawab. Kamu tahu apa itu atma?”

Atma? Bicara apa dia.

 

“Jawab.”

 

“Ti-tidak.”

 

“Dasar manusia, aku tidak mau menghabiskan waktumu dengan eksposisi, tapi mengingat kita sepertinya akan di dalam mobil ini selamanya, aku jelaskan saja versiku. Tanpa atma miliknya, Andini akan mati. Dan tanpa Andini, atma di dalam dirinya hanya punya waktu terbatas untuk hidup.”

 

Perasaanku semakin tak enak.

 

“Tanpa induk, kami hanya punya waktu terbatas, tapi setidaknya waktu itu cukup.”

 

“Cu-cukup untuk apa?”

 

“Pembalasan.”

 

Suasana dalam mobil semakin tidak enak.

 

“Kembali soal Andini,” ia melanjutkan lagi, “satu kekurangan terbesar dia, dia itu mudah sekali percaya orang, termasuk orang yang tidak dia kenal. Di dunia manusia, hal itu sangat berbahaya, dan masa depannya hancur akibat itu.

 

“Andini berkenalan dengan seorang pria di internet. Hubungan kami cukup dekat, jadi aku bisa mengobrol dengannya jika dibutuhkan, asalkan dia sedang tidak meminum pil-pil yang orang tuanya berikan. Memang manusia, hal dasar seperti beda antara halusinasi dan atma saja mereka tidak bisa membedakan.”

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak bisa berbuat apa pun selain mendengarkan dan menginjak gas ke tujuan yang aku sendiri sudah tidak tahu jelasnya.

 

“Aku sudah ingatkan dia, laki-laki itu bajingan semua. Semakin tua semakin jahat, apa lagi laki-laki yang berkeliaran di internet dan mencoba berkenalan dengan wanita muda, bahkan iblis pun terkagum-kagum dengan kebrengsekan manusia seperti itu.

“Andini dengan polosnya setuju untuk bertemu pria itu, tentu saja aku ikut pergi bersamanya, menyaksikan segala hal yang terjadi antara mereka malam itu.” ia terdiam sejenak, mengisi mobil dengan keheningan paling memekakan telinga yang pernah aku rasakan, “bedanya, tidak seperti sang pria yang langsung melepas Andini dari hidupnya, aku harus menyaksikan bunga yang aku sayang, yang telah memberikanku kehidupan luar biasa, hancur perlahan-lahan.”

 

“Apa maksudmu bercerita seperti ini?!”

 

“Lho? Kupikir kamu cuma bajingan? Ternyata goblok juga.”

Aku tidak bisa marah. Lebih tepatnya, aku terlalu takut untuk marah.

 

“Tinggal dalam jiwa yang rusak itu rasanya seperti neraka. Aku harus memikirkan apa yang ia pikirkan, aku harus hidup di sebuah dunia yang lebih menakutkan daripada dongeng horor manusia. Dan jiwa yang rusak tidak hanya buruk bagi atma, tapi juga bagi manusianya.”

 

Keringat semakin membanjiriku, dan bukannya membuat tanganku licin dari kemudi, ia malah menjadi perekat yang membuatku tak bisa melepaskan kemudi dari tanganku.

 

“Andini adalah perempuan hebat. Tapi tidak ada hal yang tak bisa dipatahkan. Setelah bertahun-tahun menderita, ia menyerah. Orang-orang bilang tali itu yang mengakhiri hidupnya, tapi buatku tali itu hanyalah epilog tipis untuk jiwa yang kuat.

 

“Tidak, Andini tidak dibunuh oleh tali itu. Andini dibunuh oleh seorang pria yang ia temui di internet. Andini dibunuh malam itu di hadapanku, dan aku tidak sabar untuk melihat kehancuran orang yang melakukannya di hadapanku juga … malam ini.”

 

“Kamu punya bukti apa kalau aku yang membunuh Andini hah?!” aku tidak tahu apa yang menghantuiku, tapi aku mencoba menjawab gadis tersebut dengan lantang, “kalau memang dia lemah, jangan salahkan orang lain lah!”

“Wah wah wah, masih punya nyali juga dia, memangnya kamu mau membunuhku juga? Tidak usah repot-repot, umurku memang cuma sampai malam ini kok.”

 

“Cewek gila! Lo sadar kan lo di mana sekarang?!”

 

“Sadar kok, kamu sendiri sadar kamu di mana sekarang?”

Ucapannya membuatku terdiam. Sejak kapan jalan tol ini jadi begitu sepi?

Hanya ada mobilku melaju di jalan yang gelap. Tidak ada lampu jalan, seluruh kegelapan ini hanya disinari lampu depan mobilku yang berusaha menembus kehitaman pekat tanpa batas.

 

Tidak ada rest area atau pun tanda-tanda kehidupan di sekitar sini. Pinggir tol dipenuhi pepohonan lebat tiada akhir. Aku terjebak.

 

“Kamu nggak terjebak kok?”

Tiba-tiba gadis itu bicara, aku menengok ke arahnya. Senyumnya masih sama seperti saat kita bertemu tadi, senyum jahil penuh arti yang tak bisa kumengerti.

Tapi matanya berbeda. Di tengah gelapnya interior mobilku, matanya semakin bersinar. Bukan sinar yang menyilaukan, sinar tersebut malah terasa seperti menghisap segala cahaya di sekitarnya. Aku bisa saja berhenti di tengah tol ini dan keluar dari mobil. Tapi ke mana aku harus pergi?

 

“Kamu bisa jalan terus kok, tidak perlu berhenti, karena apa yang ada di luar mungkin lebih berbahaya daripada yang kamu bayangkan.”

 

Aku tidak bisa lari ke mana-mana.

 

“Aku memang bilang umurku hanya sampai malam ini saja…”

Itu dia, aku tinggal terus mengemudi sampai aku sampai ke tempat yang aman!

“Ya, kamu bisa terus mengemudi,” ia bicara seakan-akan membaca pikiranku, “terus mengemudi dan sambil mendengarkan aku bercerita. Cerita tentang apa saja yang Andini alami, apa saja yang ada di pikirannya, sampai-sampai kamu bisa merasakan apa yang ia rasakan.

 

“Karena meskipun aku akan hilang dari dunia ini begitu fajar menjelang, tapi malam masih panjang. Dan malam yang sesungguhnya lebih panjang daripada malam-malam lain yang pernah kamu bayangkan, dan kita akan mengisinya dengan pesta kecil-kecilan. Hanya kita berdua dan malam.”

 

Dia tidak berbohong. Aku bisa merasakannya. Malam masih panjang. Masih sangat panjang. Mungkin malam ini tidak akan berakhir. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak bisa ke mana-mana. Aku hanya bisa duduk di sini, ditemani seorang gadis, malam, dan sebuah cerita yang tidak akan berakhir.

 

Mana yang akan bertahan? Aku atau malam?

 

 

 

 

-TAMAT-

 

Author

Mohammad Fahmi