fbpx

PENERIMAAN

Aku hidup bahagia. Sungguh.

 

Tidak ada yang lebih sempurna daripada seorang penulis receh yang bahagia dengan kerecehannya. Maksudku, aku bukan penulis best-seller dengan buku booming yang mejeng di berbagai toko buku. Aku bukan pula penulis prolifik yang sangat produktif menulis dan hampir bisa menerbitkan lebih dari 5 buku per tahun.

 

Terakhir kali aku menerbitkan buku adalah beberapa tahun lalu. Setelah itu aku hiatus dan hanya fokus menulis pada platform online. Biasanya aku akan menghindari genre horor, tapi entah setan alas mana yang merasukiku hingga aku malah begadang untuk menulis cerita horor malam ini. Tidak ada yang salah dengan itu. Aku juga bukan penakut. Lagi pula, aku tidak punya kemampuan untuk melihat hal-hal tak kasatmata. Hal-hal aneh juga tidak pernah terjadi padaku, jadi aku hampir yakin semuanya akan baik-baik saja.

 

Hampir.

 

***

 

Prakiraan cuaca hari ini mengatakan bahwa sepanjang hari akan cerah, tanpa awan ataupun hujan setetes pun. Siapa yang bisa menyalahkanku saat merengut sebal begitu mendengar suara petir di luar sana? Tidak ada.

 

Hawa hangat yang sedari tadi menyelimuti, kini sedingin AC yang disetel pada suhu delapan belas derajat celcius. Aku pun menoleh pada AC di seberang ruangan. Mati.

 

Kuap seketika menyerang sementara naskah baru sebentar ditulis. Aku meraih mug di samping papan ketik dan menyesap kopi di dalamnya. Dingin.

 

Ini aneh. Belum lama tadi aku membuat kopi panas. Baru sebentar, dan sudah ada bunga-bunga es di dalam mug. Aku yakin tadi tidak menambahkan balok es ke situ. Aku menyingkirkan mug sambil menggeleng-geleng. Ah, pasti aku hanya lupa kalau tadi sebenarnya memang sudah ada balok es di dalam kopiku. Aku lanjut menulis. Namun baru selesai separagraf, embusan angin dingin seolah meniup telinga. Bersamaan dengan itu, suara kikih yang dalam dan tenang segera saja menggema dalam pendengaranku. Jari jemariku berhenti mengetik dan melayang sesenti dari papan ketik.

 

Aku ingin mengaku. Pendengaranku ini sangat tajam. Saat seseorang terkena hal aneh bernama “ketindih” atau bahasa kerennya sleep paralysis, biasanya dia akan melihat sosok menakutkan. Aku pernah ketindih sekali, tapi tak melihat apa pun. Hanya suara kikih perempuan melengking yang bisa kudengar.

 

Kikih kali ini mengingatkanku pada kikih melengking itu. Namun, entah kenapa, suara kali ini terdengar seperti suara berat bapak-bapak kompleks. Rasanya dingin dan nge-bass sekali. Aku menggeleng kembali, lalu memaksakan diri tersenyum. Fakta bahwa badanku masih bisa bergerak menandakan bahwa aku tidak sedang ketindih. Ini pasti karena aku sedang menulis cerita horor, makanya suasananya jadi seperti mengikuti kondisi otak dan hatiku saat ini. Ah, mungkin aku harus berterima kasih karenanya. Situasi menegangkan yang sempurna akan membuatku bisa menulis cerita horor dengan lancar jaya pula, maka aku tidak perlu cemas berlebih pada—

 

“Periksa ponselmu.”

 

Aku berhenti menulis seketika. Senyumku terpajang kaku. Keringat dingin memenuhi wajah. Suara kikih bapak-bapak kompleks tadi mendadak berubah menjadi ucapan yang bisa dimengerti.

 

Dengan kaku, aku menoleh ke sana kemari. Tak ada apa pun.

 

Aku selama ini selalu bersyukur tidak punya mata batin yang bisa melihat hal-hal di luar nalar. Selama ini, paling mentok juga aku hanya akan mengutuki pendengaranku yang sialan ini. Namun, baru kali ini aku merasa bisa mendengar tapi tak bisa melihat, justru lebih menakutkan dari apa pun.

Aku membaca mantra di kepalaku: aku tidak takut, aku juga bukan penakut, dan sampai kapan pun sesuatu yang tidak masuk akal tidak akan bisa menakutiku.

Aku mengangguk, lantas meraih mug kopi kembali.

 

Dering suara notifikasi ponsel berbunyi nyaring. Mug kopi segera saja terbang mencium lantai dan pecah. Tak kupedulikan kopi yang berceceran di lantai. Tangan sialanku ini masih gemetar tanpa bisa diapa-apakan lagi. Aku menoleh sebal pada ponsel. Setiap kali sedang menulis, aku selalu memasang mode senyap pada ponsel. Kenapa kali ini bisa berbunyi senyaring itu?

 

Setelah mengibaskan tangan yang gemetar, aku meraih ponsel. Ada notifikasi pop-up di sana. Pesan aneh yang jelas tidak berasal dari aplikasi apa pun di ponselku. Hanya sebaris kode http://code.atma yang seharusnya kuabaikan.

 

Dot atma? Website mana yang menggunakan dot atma? Umumnya kan situs-situs begitu pakainya dot com, dot net, atau dot org. Tapi kode domain begitu memang banyak jenisnya. Siapa tahu dot atma adalah domain baru yang belum banyak digunakan orang. Firasatku mengatakan untuk mengabaikannya saja. Namun, jempolku bergerak tanpa izin dan menekannya.

 

Welcome, Seeker…

 

Itu adalah dua kata yang menyambutku. Seeker? Apa itu?

 

“Kiri. Arahkan ke kiri.”

 

Kali ini ponselku yang kubanting ke arah monitor.

 

Suara sialan!

Aku sekarang bahkan tidak tahu harus ketakutan atau justru murka. Akhirnya aku mengambil ponsel dan iseng mengarahkannya ke kiri. Saat aku berkata bahwa suara itu satu spesies dengan bapak-bapak kompleks, tak pernah kuduga kalau itu tidak terlalu melenceng. Hanya dua meter di sebelah kiri, sesosok tubuh bapak-bapak kompleks—bukan, maksudku tubuh tegap penuh sisik es dengan kepala seperti hiu martil sedang memandangku dengan dingin dan tanpa ekspresi. Tunggu dulu, kepala hiu?

 

Tak punya waktu untuk berpikir, aku segera menggunakan ponsel sebagai senjata dengan melemparkannya pada si kepala hiu. Aku berbalik dengan terlalu cepat hingga terjungkal dari kursi dan mendarat pada mug pecah. Tangan dan kakiku berdarah. Tak ada waktu untuk merasa sakit, aku merangkak menjauh dengan kilat. Dengan posisi menyedihkan itu, aku berusaha meraih pintu, tapi tidak sampai. Derita punya tubuh pendek, jangkauan tangan pun jadi ikutan pendek. Hawa dingin kembali menggelayuti sekitar. Aku tak punya waktu untuk meraih gagang pintu. Aku bahkan tak punya waktu untuk sekadar berteriak ngeri.

 

Begitu membalikkan badan dengan waswas dan membenturkan punggung ke pintu, aku bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Namun sosok kepala hiu itu menghilang. Dan ponselku masih teronggok di tempat tadi aku melemparkannya. Belum sempat aku merasa lega, tiba-tiba saja lantai seakan membeku. Aku mengucek mataku keras-keras. Gelombang es mengangkat ponsel dan menggerakkannya mendekat, seolah sedang membawakannya padaku.

 

“Kamu tidak punya mata batin. Hanya dengan ponsel ini, kamu bisa melihatku.”

 

Aku menendang ponsel menjauh, tapi es itu keras kepala dan terus mengembalikannya padaku. Ini terlihat konyol karena seakan-akan aku sedang bertarung dengan ponselku sendiri. Tak ada lagi pilihan lain, aku mengambil ponsel dan mengarahkannya ke depan. Sosok itu berdiri agak jauh dariku. Dia bisa saja mendekat, tapi untuk suatu alasan, dia tetap berdiri kokoh di sana.

Aku menanyakan dia itu apa, tapi jawabannya aneh.

 

“Semua orang umumnya memiliki atma pendamping. Itu semacam roh pelindung, yang akan melindungimu dari atma jahat yang ingin mencelakaimu.”

 

Atma pendamping? Roh pelindung? Omong kosong macam apa ini? Memangnya atma itu semacam digimon?

 

“Sejak kamu lahir, aku juga terlahir sebagai atma yang mendampingimu. Tapi sekarang kamu bisa merasakan kehadiranku. Waktunya sudah tiba untuk membuat kontrak.”

 

Kontrak? Semacam apa?

 

“Sejak lahir, hidup-mati kita sudah terhubung. Kamu mati, aku mati. Aku mati, kamu mati.”

Ah. Apa atma itu semacam daemon di novelnya Phillip Pullman? Aku akan lebih paham jika analoginya seperti itu.

 

“Ya,” jawab atma itu seakan bisa mendengar isi pikiranku.

Aku refleks menoleh pada layar ponsel. Ada pop-up lain muncul.

 

Selesaikan kontrak atma-mu!

 

Hanya ada satu tombol di bawahnya, bertuliskan: collect.

Aku berusaha mengabaikan itu dan menekan tombol back, tapi entah kenapa justru tombol collect yang tertekan. Aku refleks mencibir. Dasar aplikasi kurang ajar. Apa-apaan? Bahkan kontrak dengan atma pun merupakan sebuah pemaksaan.

 

Aku mengarahkan kembali ponsel pada si kepala hiu. Dia yang selalu tampak tanpa ekspresi, kali ini tersenyum tipis hingga luka codet yang menyilang di mulutnya menjadi terlihat jelas.

 

“Terima kasih,” katanya tenang. “Kamu bisa memanggilku Sura.”

 

***

Atma info:

Sura telah tersesat dalam gelap begitu lama hingga lelah membekukan hatinya. Meskipun begitu, dendam bukanlah sesuatu yang akan ia buru, meskipun ia mampu.

***

 

Aku berpikir keras saat membaca informasi itu. Tak juga menemukan jawaban, aku mengarahkan ponsel ke arah samping. Bapak kompleks berkepala hiu sedang bersila menghadapku.

“Sura,” panggilku.

“Mm?”

“Kenapa kamu atmaku?”

“Atma merepresentasikan kepribadian tuannya.”

“Iya, makanya, kenapa kamu atmaku? Aku hidup bahagia dan nggak tersesat dalam gelap.”

“Benarkah?”

Aku mengernyitkan alis. “Ya. Untuk sekarang.”

“Dulu?” tanyanya memancing.

Aku bungkam, tidak bisa menjawab bagian yang itu.

“Aku adalah atmamu,” kata Sura dengan sabar. “Hatimu dingin karena kegelapan yang diakibatkan orang-orang. Kamu bisa saja memilih dikuasai dendam dan membalas orang-orang. Tapi, kamu bertindak pintar dengan mengalihkan energi yang bisa kamu gunakan mendendam sepuas hati, mengubahnya menjadi bentuk lain.”

 

“Bentuk lain apa?”

“Menulis.”

 

Hanya satu kata sederhana itu, tapi bahkan aku pun tahu seberapa besar artinya itu untukku. Aku memahaminya sekarang. Maka, bersamaan dengan itu pun, aku menerima Sura. Kontrak kami tak lagi terasa dipaksakan. Juga tak terasa menakutkan lagi.

 

Tak lama, aku pun tersenyum.

 

 

 

-TAMAT-

 

 

 

Author

Dya Ragil